Berusia 192 Tahun, Mbah Arjo : 17 Anak Sy Sudah Meninggal, "Saya Ini Nggak Pernah Sakit, Bahkan Pilek (Flu) Saya Nggak Pernah
Kembali lagi
di website resmi RepublikMetro.com yang senatiasa memberikan update-update
berita terbaru dan terpercaya yang
disertai dengan fakta-fakta yang kami rangkum dari berbagai situs-situs resmi.
Kali ini adalah tentang Mbah Arjo Manusia Tertua Indonesia di Gunung Kelud, Makanannya Cuma Ini Tetapi Dianggap Sakti
Pria asal Provinsi Jawa Timur ini bisa jadi merupakan orang tertua di Indonesia, bahkan di dunia.
Namanya Mbah Arjo Suwito. Dia berasal dari Dusun Sukomulyo, Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar.
Data di balai desanya mencatat, kakek ini lahir tahun 1825, saat Indonesia alias Bumi Nusantara masih dijajah oleh Kolonial Belanda.
Tepatnya, bersamaan dengan dimulainya Perang Jawa yang dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro melawan Belanda.
Ini berarti, jika catatan itu, pada tahun 2018 ini, usia Mbah Arjo Suwito sudah mencapai 192 tahun.
Namun, tidak ada bukti tertulis atau kesaksian orang lain yang membenarkan, bahwa usianya sudah hampir dua abad.
Sebelum Mbah Arjo, Indonesia juga sempat dihebohkan dengan keberadaan Mbah Gotho.
Pria asal Sragen, Jawa Tengah ini sempat merayakan Ultah-nya yang ke-146 tahun, sebelum akhirnya meninggal dunia pada 30 April 2017 lalu.
Saat ini, Mbah Arjo Suwito hidup bersama anaknya, Ginem (53). Sejak tahun 1990-an, mereka tinggal di lereng Gunung Kelud, atau tepatnya di Gunung Gedang.
Katanya, Ginem itu merupakan anaknya yang ke-18, dari istrinya yang keenam.
Dari enam kali menikah tersebut, ia mengaku dikaruniai 18 anak.
Namun, 17 anaknya sudah meninggal dunia, dan tinggal satu, Ginem, yang saat ini hidup bersamanya.
Dari puncak Gunung Kelud itu, tempat mbah Arjo berjarak sekitar 10 kilometer.
Untuk menuju ke lokasi itu, tak mudah karena jalannya cukup sulit, dengan melalui perkebunan pohon Karet, yang masuk wilayah perhutani (BKPH Wlingi).
Makanya, itu harus ditempuh dengan sepeda motor yang sudah dimodifikasi seperti trail.
Jika mau ke tempat itu, rutenya harus melalui Kecamatan Talun, kemudian ke arah utara sekitar 12 kilometer yang sudah masuk Kecamatan Gandusari.
Dari Kecamatan Gandusari itu, harus ditempuh menggunakan sepeda motor trail, dan melalui dua desa.
Yakni, Desa Gandusari dan Gandungan.
Setelah melalui medan yang sulit sepanjang 7 km, itu baru sampai ke tempat mbah Arjo.
Tempat mbah Arjo itu lebih dikenal dengan Candi Wringin Branjang karena ada candi yang diperkirakan peninggalan Kerajaan Majapahit.
Bahkan, candi yang bangunannya mirip Candi Penataran itu disebut-disebut, yang menemukan pertama kali adalah Mbah Arjo tahun 1990.
Saat itu, mbah Arjo baru sebulan menghuni lokasi itu, dan menemukan bangunan, yang terpendam tanah pegunungan.
Ditemui Minggu (14/1/2018) pukul 09.00 WIB, ia sedang duduk di dalam rumahnya. Rumah mbah Arjo, sangat tak layak karena lebih mirip gubuk, dengan ukuran 3 x 4 meter.
Dindingnya berasal dari bambu (gedek), namun sebagian belum dianyam dan cukup dipaku. Atapnya terbuat dari alang-alang bercampur jerami.
"Sejak saya tinggal di sini (1990-an), ya ini rumah saya. Ini saya tempati dengan anak perempuan saya," tutur Mbah Arjo, yang bicaranya masih lancar namun mengaku sudah setahun agak susah jalan.
Sejak tak bisa jalan itu, ia tak bisa beraktivitas apapun.
Bahkan, mulai buang air besar, atau kencing, itu ia lakukan di atas tempat tidurnya, yang terbuat dari bambu, dengan tikar pandan, yang kondisinya sudah kusam.
Meski hidup di tengah hutan, namun ia mengaku tak kesulitan air bersih atau kebutuhan makan lainnya.
Sebab, di dekat tempat tinggalnya, ada kali, yang airnya cukup jernih.
Untuk makanannya, ia mengandalkan sayur yang ditanam sendiri, seperti daun singkong, dan bayam.
Sementara, berasnya, ia mengaku mendapat jatah beras raskin.

Post a Comment for "Berusia 192 Tahun, Mbah Arjo : 17 Anak Sy Sudah Meninggal, "Saya Ini Nggak Pernah Sakit, Bahkan Pilek (Flu) Saya Nggak Pernah"